Jurnal Internasional Air, Vol. 11, Halaman 121: Perbandingan Kebijakan Lindung Nilai Optimal untuk Operasi Sistem Reservoir PLTA

Download Jurnal Disini

Air, Vol. 11, Halaman 121: Perbandingan Kebijakan Lindung Nilai Optimal untuk Operasi Sistem Waduk PLTA

Air doi: 10.3390 / w11010121

Penulis:
Aida Tayebiyan
Thamer Ahmad Mohammad
Nadhir Al-Ansari
Mohammad Malakootian

Aturan operasi reservoir memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Sementara itu, kebijakan lindung nilai sebagian besar diterapkan untuk pasokan air kota, industri, dan irigasi dari reservoir dan kurang digunakan untuk operasi reservoir untuk pembangkit listrik tenaga air. Konsep faktor lindung nilai dan penjatahan dapat digunakan untuk mempertahankan air di reservoir demi meningkatkan penyimpanan air dan kepala air untuk penggunaan di masa depan. Namun, penyimpanan air dan kepala merupakan faktor utama dalam pengoperasian sistem reservoir untuk pembangkit listrik tenaga air. Studi ini menyelidiki penerapan tujuh kebijakan lindung nilai yang bersaing termasuk empat bentuk lindung nilai adat (1PHP, 2PHP, 3PHP, DHP) dan tiga bentuk aturan lindung nilai baru (SOPHP, BSOPHP, SHPHP) untuk operasi reservoir untuk pembangkit listrik tenaga air. Model-model tersebut dibangun di MATLAB R2011b berdasarkan karakteristik sistem reservoir PLTA Batang Padang, Malaysia. Untuk memaksimalkan output pembangkit listrik dalam periode operasional (2003-2009), tiga algoritma optimasi yaitu optimasi partikel swarm (PSO), algoritma genetika (GA), dan hybrid PSO-GA dihubungkan dengan salah satu model yang dibangun (1PHP sebagai tes) untuk menemukan algoritma yang paling efektif. Karena hasilnya menunjukkan keunggulan algoritma PSO-GA hybrid dibandingkan dengan PSO atau GA, PSO-GA hybrid dihubungkan ke setiap model yang dibangun untuk menemukan variabel keputusan optimal dari masing-masing model. Metodologi yang diusulkan divalidasi menggunakan data bulanan dari 2010-2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara output pembangkit listrik rata-rata bulanan selama 2003-2009 dan 2010-2012. Hasil menyatakan bahwa dengan menerapkan kebijakan yang diusulkan, output pembangkit listrik dapat meningkat sebesar 13% sehubungan dengan manajemen sejarah. Selain itu, perbedaan antara pembangkit listrik rata-rata dari bulan tertinggi ke terendah dikurangi dari 49 MW menjadi 26 MW, yang hampir setengahnya. Ini berarti bahwa kebijakan lindung nilai dapat secara efisien mendistribusikan pasokan air dan pasokan listrik pada periode operasional dan meningkatkan stabilitas sistem. Di antara kebijakan lindung nilai yang dipelajari, SHPHP adalah kebijakan yang paling nyaman untuk operasi reservoir tenaga air dan memberikan hasil terbaik.

Download Jurnal Disini
Jurnal

Air, Vol. 11, Halaman 121: Perbandingan Kebijakan Lindung Nilai Optimal untuk Operasi Sistem Reservoir PLTA