Patofisiologi Diare

665 views

PATOFISIOLOGI DIARE

Patofisiologi Diare

Patofisiologi Diare

Patofisiologi diare pada tiap orang tidak sama bergantung dari penyebab terjadinya. Diare mempunyai banyak sebab sehingga memicu penyakit ini muncul. Secara umum, penderita yang terserang penyakit ini akan berada pada keadaan seringnya melakukan buang air besar di mana kondisi kotorannya lebih cari daripada normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang sering terjadi adalah tubuh manusia mengalami serangan dari virus, jamur dan bakteri. Kemudian, diare juga dapat dipicu oleh gaya hidup terutama dari segi pola makan yang tidak sehat. Banyak orang menyukai makanan pedas yang akhirnya berakibat pada diare. Setiap faktor-faktor pemicu memang berbeda tetapi mempunyai akibat yang sama yaitu diare.

Terjadinya Penyakit Diare

Ketika membahas patofisiologi diare maka perlu diketahui tentang proses terjadinya diare. Pada dasarnya, gangguan osmotic pada tubuh menjadi awal terjadinya diare. Kemudian diikuti oleh gangguan yang ada pada sistem ekskresi atau pembuangan hingga berdampak pula pada usus. Setiap gangguan ini saling berkesinambungan antar satu dengan yang lain.

Virus dan bakteri masuk melalui makanan atau hal lain dari luar tubuh. Makanan pedas pun juga dikonsumsi oleh seseorang. Kedua faktor ini akan mengakibatnya sebuah gangguan yang disebut osmostic pada tubuh. Gangguan ini menyebabkan makanan yang telah masuk tersebut tidak dapat diserap secara sempurna oleh tubuh. Ketidakmampuan tubuh mencerna makanan dengan sempurna ini yang menyebabkan adanya tekanan. Tekanan yang dikenal dengan sebutan osmotic ini akan menyerang organ usus manusia. Ketika usus mengalami tekanan maka akan berpengaruh pada kondisi air dan elektrolit. Keduanya akan mulai menggeser. Pergeseran ini akan membuat organ usus tidak sempat menyerang air pada sisa makanan. Organ usus tidak dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Akibatnya sisa makanan tersebut dikeluarkan dengan kondisi lebih cair. Selain itu akibat tidak stabilnya organ ekskresi maka kondisi ini akan terjadi terus menerus. Itulah mengapa penderita akan terus-terusan buang air besar selama diare.

Organ ekskresi pada tubuh mengalami gangguan yang berdampak pada dinding usus. Ketidakstabilan pada dinding usus mengakibatkan meningkatnya jumlah air pada rongga usus sehingga tidak dapat terserap maksimal. Akibatnya feses dikeluarkan dalam kondisi lebih cair daripada kondisi normal. Kondisi ini juga semakin diperparah dengan adanya gangguan pada pergerakan usus.

Jenis-jenis Diare

Secara umum memang kondisi diare sama saja yaitu kondisi buang air besar secara sering dengan keadaan kotoran yang encer. Akan tetapi, diare juga bukan terdiri atas satu jenis saja. Diare akut merupakan kondisi diare yang dialami penderita selama kurang lebih dua minggu. Pada kondisi ini penderita akan selalu mengalami kondisi feses yang encer serta buang air besar sesering mungkin. Kemudian ada, diare kronis di mana penderita mengalaminya selama lebih dari dua minggu. Setelah penderita juga dapat mengeluarkan feses beserta darah dan ini disebut desentri.

 

Jenis-jenis ini pada umumnya akan menyebabkan dehidrasi dan ini menjadi kondisi umum patofisiologi diare. Dehidrasi ini terjadi karena penderita tidak mengimbangi dengan minum air putih yang banyak, Dehidrasi pada diare seringkali berakibat pada kematian.

 

 

Tags: #Kesehatan